DIALOGIS.CO, SANGATTA – Peletakan batu pertama Rumah Banjar NKBKT oleh Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menjadi momentum penting bagi komunitas Banjar di daerah ini. Acara yang berlangsung di Jalan Wahab Syahranie itu tidak hanya menandai pembangunan fisik semata, tetapi juga menunjukkan peran aktif NKBKT dalam menjaga keharmonisan sosial di Kutim.
Dalam kesempatan tersebut, Mahyunadi mengapresiasi NKBKT sebagai organisasi etnis yang mampu menggerakkan warganya untuk berkontribusi secara nyata. “Saya melihat semangat luar biasa dari masyarakat Banjar. Ini bukan sekadar membangun rumah adat, tapi membangun jembatan sosial yang menyatukan kita semua,” ujar Mahyunadi.
Ketua NKBKT Syahliannor menuturkan, pembangunan Rumah Banjar digagas dengan prinsip kebersamaan. Dana yang digunakan berasal dari iuran sukarela masyarakat Banjar, tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.
“Semangat urang Banjar itu pantang menyerah. Semua bergerak bersama, saling bantu, dan insyaallah Rumah Banjar ini akan menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin memperkuat silaturahmi dan persaudaraan,” ucapnya.
Selain berfungsi sebagai pusat kegiatan budaya, Rumah Banjar juga akan dibuka untuk kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti musyawarah warga, pelatihan keterampilan, hingga kegiatan keagamaan.
Kehadiran Rumah Banjar di Kutim diharapkan memperkuat posisi NKBKT sebagai wadah pemersatu lintas paguyuban di daerah yang terkenal plural ini. Kutim sendiri dihuni berbagai etnis besar seperti Bugis, Jawa, Dayak, dan Toraja yang hidup berdampingan.
Pemerintah daerah pun menilai langkah ini sebagai contoh positif bagaimana komunitas dapat mengambil peran aktif dalam menjaga harmoni sosial. “Kami mendukung inisiatif seperti ini karena Kutim dibangun atas dasar kebersamaan,” tegas Mahyunadi.
Melalui Rumah Banjar, NKBKT bertekad menjadikan nilai gotong royong dan toleransi sebagai fondasi utama membangun masyarakat Kutim yang inklusif dan berbudaya. (adv/prokopimkutim/jn)







