DIALOGIS.CO, SANGATTA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) secara konsisten dan penuh komitmen mendorong penguatan dan pengembangan sektor ekonomi kreatif sebagai bagian integral dan strategis dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan. Tekanan dan dorongan politik ini disampaikan dengan mempertimbangkan potensi besar dan prospek cerah yang dimiliki oleh berbagai subsektor kreatif dalam menciptakan lapangan kerja baru yang inklusif, meningkatkan performa ekspor non-migas, serta membangun citra dan soft power bangsa di kancah persaingan global. Sektor ekonomi kreatif ini dinilai mampu dan potensial menjadi penggerak ekonomi baru yang tangguh di tengah situasi ketidakpastian dan volatilitas pasar global.
Yusri Yusuf, selaku anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim, dengan tegas menegaskan komitmen politiknya untuk terus mendorong dan memacu kemajuan bidang ekonomi kreatif ini. “Kami selaku anggota dpr meminta untuk ekonomi kreatif itu selalu di tingkatkat,” ujarnya.
Permintaan dan desakan untuk peningkatan yang berkelanjutan ini bukan tanpa dasar dan alasan yang kuat serta empiris. Ekonomi kreatif, yang secara komprehensif mencakup bidang-bidang strategis seperti pengembangan aplikasi dan game, industri film dan animasi, musik dan entertainment, fashion dan desain, serta kuliner dan kriya, telah terbukti memiliki daya tahan (resilience) yang kuat selama menghadapi berbagai krisis ekonomi. Sektor kreatif ini juga secara signifikan banyak menyerap tenaga kerja terampil dari kalangan muda produktif dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang selama ini menjadi tulang punggung dan penyangga utama perekonomian nasional Indonesia. Oleh karena itu, investasi strategis dan berkelanjutan di sektor kreatif ini dipandang sebagai investasi jangka panjang yang cerdas untuk masa depan ekonomi Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Untuk mewujudkan potensi dan harapan besar tersebut, diperlukan langkah-langkah konkret, terukur, dan berkelanjutan dari semua pemangku kepentingan. Beberapa aspek kritis yang kerap disoroti dan menjadi perhatian antara lain perlunya insentif fiskal yang lebih menarik dan berkelanjutan, kemudahan akses permodalan dan pembiayaan yang inklusif, perlindungan hak kekayaan intelektual yang kuat dan efektif, serta pengembangan infrastruktur pendukung seperti ruang kreasi kolaboratif dan akses pasar digital yang luas dan terjangkau. Sinergi yang konstruktif dan berkelanjutan antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas kreatif menjadi kunci strategis dalam menciptakan ekosistem yang kondusif, dinamis, dan berkelanjutan.
Dukungan politik dan kebijakan dari legislatif ini diharapkan dapat memacu dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan komitmen yang kuat, konsisten, dan kebijakan yang tepat, terintegrasi, dan implementatif, sektor kreatif tidak hanya akan tumbuh sebagai penopang ekonomi nasional yang tangguh, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya, inovasi teknologi, dan kreativitas bangsa Indonesia di mata dunia. (Adv/jn)







