446

Siapkan Peta Riset Ketahanan Pangan, BRIDA Kutim Bidik Kemandirian di Tengah Ancaman Krisis

DIALOGIS.CO, SANGATTA – Di tengah ancaman krisis pangan global dan fluktuasi harga kebutuhan pokok, Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutai Timur (Kutim) memilih bergerak lebih awal. Lembaga ini tengah menyusun peta riset dan strategi ketahanan pangan sebagai bagian dari lima kajian utama yang digarap setelah penetapan anggaran perubahan tahun ini.

Peneliti Ahli Pertama BRIDA Kutim, Bagus Rai Wibowo, menjelaskan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dipandang sebagai isu sektoral semata. Pemetaan potensi, rantai pasok, hingga pola konsumsi masyarakat perlu dikaji secara sistematis agar Kutim memiliki kemandirian pangan yang kokoh.

“Kita ingin memastikan Kutim siap menghadapi tantangan ketahanan pangan di masa depan. Riset ini menyentuh aspek produksi, distribusi, dan akses pangan bagi warga,” terang Bagus.

Kajian ketahanan pangan tersebut berjalan paralel dengan empat riset strategis lain. Untuk mendukung mobilitas pelajar dan transisi energi bersih, BRIDA menelaah program bus listrik gratis di Kutim. Analisis meliputi kelayakan teknis armada, skenario pembiayaan, serta dampak lingkungan yang dihasilkan.

Di bidang infrastruktur transportasi udara, BRIDA menggandeng Universitas Indonesia (UI) mengkaji pemanfaatan Bandara Tanjung Bara. Bandara yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan perusahaan itu diproyeksikan dapat dikembangkan sebagai bandara komersial, menghubungkan Kutim dengan Balikpapan, Samarinda, hingga berpeluang naik status menjadi bandara nasional bahkan internasional.

BRIDA juga intens menilai efektivitas program Rp 250 juta per RT per tahun bersama Universitas Mulawarman dan anggota DPRD Kutim Akbar Tanjung, dengan menekankan pentingnya panduan berbasis data dan akuntabilitas penggunaan dana.

Sementara di sektor pelayanan publik, kajian layanan Dukcapil Mandiri terus dimatangkan. Sistem yang memungkinkan warga mencetak KTP, KK, KIA, dan dokumen kependudukan lain secara mandiri mirip mesin ATM itu telah diuji coba di Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, serta akan diperluas ke 16 kecamatan lainnya.

Menurut Bagus, kelima kajian tersebut menjadi bukti komitmen BRIDA dalam memperkuat fondasi kebijakan pembangunan Kutim. “BRIDA ingin riset hadir sebagai solusi, bukan sekadar laporan di rak arsip. Semua ini untuk memastikan kebijakan yang diambil efektif, efisien, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” tegasnya. (adv/prokopimkutim/jn)

Add-a-little-bit-of-body-text_20250929_225158_0000
IMG-20251107-WA0002
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUTAI TIMUR (3)

#Trending Artikel

Terpopuler

239_20250930_235813_0000

Latest Post