IMG-20251109-WA0153

Ekraf Kutim Masih Zona Nyaman Fokus ke UMKM Tradisional Youtuber dan Konten Kreatif Belum Tersentuh

DIALOGIS.CO, SANGATTA – Anggota Komisi B DPRD Kutai Timur, Yusri Yusuf, mengungkapkan evaluasi kritis terhadap strategi pengembangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) di daerah ini. Dalam sebuah wawancara di Sangatta, Yusri menyampaikan bahwa pendekatan yang dilakukan dinas terkait dinilai masih belum signifikan dan cenderung bersifat konvensional, belum mampu menjawab tantangan ekonomi kreatif di era digital. Evaluasi ini penting sebagai bahan introspeksi untuk mempercepat transformasi sektor ekonomi yang padat kreativitas ini, yang seharusnya bisa menjadi pionir dalam menciptakan lapangan kerja baru dan mendiversifikasi sumber pendapatan daerah.

Yusri menyatakan bahwa dewan telah mendorong dinas terkait untuk lebih serius dan progresif dalam mengembangkan sektor potensial ini. Dorongan dari fungsi pengawasan legislatif ini diharapkan dapat memacu inovasi dan terobosan dalam kebijakan. “Ekraf itu kami tekankan ke dinas untuk pengembangan Ekraf, tapi mereka masih punya program yang betul-betul sesuai dengan kerja mereka,” ujarnya. Pernyataan ini mengisyaratkan adanya kesenjangan antara harapan dewan untuk sebuah lompatan strategis dengan realitas di lapangan, di mana program yang dijalankan masih beroperasi dalam kerangka kerja yang biasa-biasa saja dan belum menunjukkan perubahan paradigma.

Ia menegaskan permintaan dewan untuk sebuah peningkatan yang konkret dan terukur. “Kita minta supaya Ekraf itu ditingkatkan,” tegas Yusri. Permintaan ini bukan sekadar retorika, tetapi mengandung tuntutan untuk peningkatan kualitas strategi, alokasi sumber daya, dan dampak yang dirasakan langsung oleh para pelaku ekonomi kreatif, dari sekadar program rutin menjadi pendekatan yang lebih transformatif.

Namun, menurutnya, strategi yang dijalankan hingga saat ini belum menunjukkan perkembangan yang berarti atau arah yang jelas untuk mencapai lompatan tersebut. “Untuk strateginya ya saat ini belum terlalu signifikan lah, maksudnya apa yang ada sih sesuai aja, karena pengembangan Ekraf masih seperti yang sebelum-sebelumnya,” jelas Yusri. Kritik “masih seperti yang sebelum-sebelumnya” ini adalah indikator kuat adanya stagnasi. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pengembangan Ekraf di Kutim belum berhasil keluar dari pola lama dan belum beradaptasi dengan dinamika dan peluang baru di ekosistem ekonomi kreatif nasional dan global.

Ia mencontohkan jenis kegiatan yang selama ini menjadi fokus dan dinilai masih sangat dasar. “Melayani UMKM, membantu-bantuan produksi mereka, mungkin seperti itu.” Aktivitas seperti ‘melayani’ dan ‘membantu-bantuan produksi’ memang merupakan fondasi yang diperlukan, tetapi tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berdaya saing. Pendekatan ini belum menyentuh aspek penguatan ekosistem yang lebih luas, seperti pengembangan merek, akses pasar digital, hak kekayaan intelektual, dan pembiayaan yang inovatif khusus untuk sektor kreatif.

Lebih lanjut, Yusri dengan jujur mengakui bahwa pengembangan Ekraf di Kutai Timur memang belum menjangkau sektor digital yang sedang menjadi tren dan memiliki potensi ekonomi besar. Pengakuan ini penting untuk memetakan area yang masih terabaikan dalam peta pengembangan ekonomi kreatif daerah. “Cuma untuk mengambil yang seperti streaming-streaming, youtuber, itu belum, belum sampai ke sana,” tuturnya. Kesenjangan digital dalam ekosistem Ekraf ini berpotensi membuat Kutim tertinggal, karena sektor-sektor seperti pembuatan konten video, podcasting, game development, dan aplikasi seluler justru menjadi motor pertumbuhan ekonomi kreatif di banyak daerah lain.

Ia menjelaskan alasannya mengapa sektor digital kreatif ini belum tersentuh. “Karena dianggap belum terlalu populer bagi kita. bagi kita nih ya. Kalau nasional sudah populer, tapi bagi kabupaten belum ada yang meminta untuk seperti itu.” Penjelasan ini mengungkap dua masalah mendasar: pertama, sebuah pendekatan yang reaktif (menunggu permintaan) alih-alih proaktif (menciptakan pasar dan minat), dan kedua, adanya persepsi tentang ketidaksiapan pasar lokal. Padahal, dalam ekonomi digital, pasar yang dituju bisa bersifat global, tidak terbatas pada batas-batas geografis kabupaten.

Pernyataan ini secara keseluruhan mengindikasikan bahwa pengembangan Ekraf di Kutai Timur masih berfokus pada UMKM tradisional dan belum merambah ke peluang ekonomi kreatif digital yang sedang berkembang pesat, meskipun potensinya telah nyata terbukti di tingkat nasional. Untuk mengejar ketertinggalan ini, diperlukan perubahan mindset dari sekadar memenuhi permintaan yang ada menjadi menciptakan dan membentuk tren baru, serta penyusunan strategi yang lebih berani, inklusif, dan futuristik, yang tidak hanya mempertahankan yang tradisional tetapi juga aktif membidik peluang di ekonomi kreatif digital. Tanpa terobosan strategis, Ekraf Kutim berisiko tetap berada di ‘zona nyaman’ yang lama kelamaan bisa menjadi ‘zona tertinggal’. (Adv/jn)

Add-a-little-bit-of-body-text_20250929_225158_0000
IMG-20251107-WA0002
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUTAI TIMUR (3)

#Trending Artikel

Terpopuler

239_20250930_235813_0000

Latest Post