Aksi solidaritas Palestina dalam rangka peringatan Hari Al-Quds yang digelar Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kutai Kartanegara di Taman Titik Nol, depan Museum Mulawarman, Tenggarong, Jumat (13/03/2026).
Aksi solidaritas Palestina dalam rangka peringatan Hari Al-Quds yang digelar Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kutai Kartanegara di Taman Titik Nol, depan Museum Mulawarman, Tenggarong, Jumat (13/03/2026).

Peringati Hari Al-Quds, Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar Gelar Aksi Solidaritas Palestina

DIALOGIS.CO, KUTAI KARTANEGARA – Menjelang petang di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), suasana di Taman Titik Nol depan Museum Mulawarman tampak berbeda pada Jumat (13/03/2026).

Puluhan masyarakat berkumpul membawa bendera Palestina sebagai simbol solidaritas terhadap rakyat Palestina yang tengah mengalami penderitaan akibat konflik berkepanjangan.

Dalam suasana Ramadan yang khidmat, massa aksi menyuarakan keprihatinan sekaligus dukungan moral bagi masyarakat Palestina. Bendera Palestina yang berkibar di lokasi aksi menjadi simbol kepedulian terhadap isu kemanusiaan yang terjadi di Timur Tengah.

Aksi solidaritas tersebut diikuti oleh sejumlah elemen masyarakat, di antaranya Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, Aliansi Nasionalis Anti Zionis, Ahlulbait Indonesia (ABI) Kukar, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), serta Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kukar.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Al-Quds Internasional, yang setiap tahunnya diperingati sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Melalui aksi damai tersebut, para peserta menyampaikan pesan solidaritas sekaligus menolak segala bentuk penjajahan yang dinilai masih terjadi hingga saat ini.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ahlulbait Indonesia (ABI) Kalimantan Timur sekaligus Pembina Yayasan Abu Dzar Al-Ghifari Kukar, Sayid Thoriq Assegaff, menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak hanya didasarkan pada faktor agama, tetapi juga pada nilai kemanusiaan dan amanat konstitusi bangsa Indonesia.

Ia menilai apa yang terjadi di Palestina merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya ditolak oleh siapa pun, tanpa memandang latar belakang agama atau ideologi.

“Tidak perlu seseorang menjadi Muslim atau pejuang untuk menolak apa yang terjadi di Palestina. Cukup sebagai manusia, kita sudah memiliki kewajiban moral untuk menolak segala bentuk penindasan,” ujarnya.

Menurutnya, sikap tersebut juga sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

“Bangsa Indonesia lahir dari pengalaman pahit penjajahan. Karena itu kita memahami bagaimana rasanya menjadi bangsa yang tertindas. Amanat konstitusi kita jelas, bahwa segala bentuk penjajahan harus ditolak,” katanya.

Selain alasan kemanusiaan dan kebangsaan, ia juga menilai solidaritas terhadap Palestina merupakan bagian dari nilai-nilai keislaman yang mengajarkan umatnya untuk membela kaum tertindas.

Dalam ajaran Islam, lanjutnya, terdapat perintah untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, termasuk membela hak-hak masyarakat yang mengalami penindasan.

“Dalam Islam ada prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Membela kaum tertindas adalah kebaikan, dan melawan penjajahan adalah bentuk mencegah kemungkaran,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak seharusnya dipersempit oleh perbedaan mazhab atau kelompok, karena pada dasarnya persoalan tersebut merupakan isu kemanusiaan universal.

“Dasarnya ada tiga, yaitu kemanusiaan, kebangsaan, dan keislaman. Ketiga hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita berdiri di sini menyampaikan solidaritas untuk Palestina,” pungkasnya. (Fk)

Add-a-little-bit-of-body-text_20250929_225158_0000
IMG-20251107-WA0002
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUTAI TIMUR (3)

#Trending Artikel

Terpopuler

239_20250930_235813_0000

Latest Post