Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronie.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronie.

DPRD Samarinda Dorong Penguatan Pencegahan Bunuh Diri, Soroti Peran Lingkungan hingga Keamanan Jembatan Mahakam

DIALOGIS.CO, SAMARINDA – Meningkatnya kasus dugaan bunuh diri dengan cara melompat dari Jembatan Mahakam menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda.

Komisi IV menilai penanganan persoalan tersebut harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan layanan kesehatan mental, peningkatan kepedulian masyarakat, serta evaluasi aspek keamanan fasilitas publik.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Novan Syahronie, mengatakan kasus bunuh diri merupakan persoalan sosial yang kompleks dan tidak dapat dipandang hanya dari satu sisi.

Berbagai faktor, seperti masalah keluarga, hubungan pribadi, tekanan ekonomi, hingga persoalan psikologis, dapat menjadi pemicu seseorang mengambil tindakan ekstrem.

Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat. Peran keluarga, tetangga, hingga pengurus rukun tetangga (RT) dinilai penting untuk mengenali perubahan perilaku seseorang dan memberikan dukungan sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Novan menilai kepekaan sosial menjadi salah satu kunci dalam upaya pencegahan. Konflik atau tekanan yang muncul di lingkungan sekitar seharusnya dapat direspons lebih dini melalui komunikasi dan pendampingan, sehingga individu yang mengalami masalah tidak merasa menghadapi persoalannya sendirian.

Selain pendekatan sosial, ia juga menyoroti perlunya peningkatan aspek keselamatan di Jembatan Mahakam.

“Keberadaan pagar pengaman pada titik-titik yang dinilai rawan dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk mengurangi peluang terjadinya aksi bunuh diri,” ungkapnya Jumat (3/7/2026).

Ia menjelaskan, infrastruktur yang lebih aman tidak akan menyelesaikan akar persoalan, tetapi dapat menjadi penghalang yang memberi waktu bagi seseorang untuk mengurungkan niatnya atau memungkinkan adanya pertolongan dari orang lain.

Di sisi lain, Novan mengingatkan bahwa pemerintah telah menyediakan layanan kesehatan mental melalui puskesmas maupun rumah sakit.

Namun, layanan tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal karena masih banyak masyarakat yang enggan mencari bantuan profesional saat mengalami tekanan psikologis.

Menurutnya, edukasi mengenai kesehatan mental dan ketahanan keluarga perlu terus diperluas agar stigma terhadap konsultasi psikologis semakin berkurang dan masyarakat lebih berani mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan.

Novan menegaskan, penanganan kasus bunuh diri membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, hingga masyarakat, agar upaya pencegahan dapat berjalan lebih efektif.

“Ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Perlu keterlibatan keluarga, lingkungan, pemerintah, dan masyarakat untuk saling peduli serta mencegah agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tutup Novan. (Adv/ml)

Add-a-little-bit-of-body-text_20250929_225158_0000
IMG-20251107-WA0002
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUTAI TIMUR (3)

#Trending Artikel

Terpopuler

239_20250930_235813_0000

Latest Post