DIALOGIS.CO, KUTAI TIMUR — Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memulai langkah ambisius untuk membangun sektor pertanian berbasis inovasi. Melalui program Komite Tani Muda (KTM), pemerintah daerah menargetkan terbentuknya 1.000 petani milenial dalam tiga tahun ke depan.
Program ini merupakan hasil kolaborasi DPD KNPI Kutim, STIPER Kutai Timur, DTPHP, dan Dispora Kutim, yang disampaikan dalam rapat pemaparan di Ruang Arau Kantor Bupati Kutim.
Bupati Ardiansyah Sulaiman menjelaskan, langkah ini adalah bagian dari strategi jangka panjang memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi hijau (green economy). Ia menegaskan perlunya memanfaatkan lahan non-sawit hingga 100 ribu hektare untuk pertanian produktif.
“Kita ingin lahir petani muda yang tidak hanya bisa menanam, tapi juga berpikir digital, memanfaatkan Internet of Things dan big data dalam budidaya tanaman,” ujarnya.
Ketua DPD KNPI Kutim, Avivurahman Al Gazali, menjelaskan lima arah strategis KTM: regenerasi petani, integrasi teknologi pertanian modern, riset terapan, serta penguatan kelembagaan tani muda. Program seperti Inkubator Agribisnis dan Gerakan 1000 Petani Muda menjadi motor utama penggerak.
Sementara itu, Ketua DPRD Kutim Jimmi menyoroti pentingnya dukungan investor dan pendanaan inklusif. “Kita butuh model bisnis agraria yang berkelanjutan agar petani muda punya daya tawar,” katanya.
Dengan pendekatan berbasis teknologi, pendidikan, dan kemitraan, Kutim menargetkan menjadi pusat pertanian modern di Kalimantan Timur. KTM diharapkan tak hanya mencetak petani muda, tetapi juga membangun ekosistem pertanian digital yang mampu memperkuat rantai pasok pangan nasional. (adv/prokopimkutim/jn)







