DIALOGIS.CO, SANGATTA – Lajur foto-foto lama yang terbingkai rapi menyambut siapa pun yang memasuki ruang utama Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim). Di sana, pameran foto bertema “Sejarah Kutai Timur” digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarsipus) Kutim pada pertengahan November 2025, menghadirkan perjalanan panjang kabupaten yang terus berbenah sejak masa pemekaran.
Puluhan foto dokumenter menampilkan wajah Kutim di berbagai periode: suasana awal pembangunan infrastruktur, aktivitas masyarakat di pelosok, hingga momen-momen penting pemerintahan. Sebagian foto terlihat buram dimakan usia, tetapi justru di situlah nilai historisnya terasa. Setiap gambar adalah jejak pembangunan yang tertangkap lensa.
Kepala Dispusip Kutim, Ayub, menuturkan bahwa pameran ini diposisikan sebagai sarana refleksi arah pembangunan daerah. “Melalui pameran ini kita bisa melihat bagaimana Kutim tumbuh dan berubah. Setiap foto menyimpan kisah perjuangan dan semangat membangun yang patut diwariskan,” ujarnya.
Ayub menekankan agar seluruh perangkat daerah lebih peduli pada arsip visual, terutama dokumentasi program pembangunan yang kerap tersisih dari prioritas. “Foto-foto ini bukan hanya nostalgia, tapi bahan belajar agar kita bisa menata masa depan dengan lebih bijak,” lanjutnya.
Direktur Kearsipan Daerah 1 Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Irwanto Eko Saputro, hadir memberikan dukungan sekaligus membuka pameran. Menurutnya, langkah Pemkab Kutim mengemas arsip dalam bentuk pameran visual menunjukkan komitmen terhadap pelestarian sejarah. “Langkah seperti ini patut diapresiasi. Kutim menunjukkan bahwa dokumentasi masa lalu bisa dihadirkan dengan cara yang menarik dan edukatif,” kata Irwanto.
Di sela rombongan tamu undangan, Ayu dari Sekretariat Kabupaten dan Rizky dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutim tampak antusias mengamati satu per satu foto. Keduanya mengaku merasakan kebanggaan sekaligus keharuan melihat perubahan wajah Kutim.
Selama dua hari penyelenggaraan, pameran tersebut menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa depan. Dari arsip yang membeku di atas kertas foto, lahir kesadaran bahwa identitas sebuah daerah dibangun dari ingatan kolektif yang dijaga bersama. (adv/prokopimkutim/jn)







