DIALOGIS.CO – Pemerintah Desa Loa Pari, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus memperkuat pelayanan kesehatan bagi kelompok rentan, khususnya balita dan lansia.
Upaya ini dilakukan bersama Puskesmas serta melibatkan peran aktif masyarakat untuk memastikan layanan kesehatan berjalan inklusif dan berkelanjutan.
Kepala Desa Loa Pari, I Ketut Sudiyatmika, menjelaskan bahwa saat ini layanan kesehatan balita terpusat di satu Posyandu yang sudah berjalan efektif.
Sementara untuk kelompok lansia, layanan dibagi menjadi dua pos pelayanan guna menyesuaikan dengan kebutuhan dan waktu penanganan yang lebih kompleks.
“Kalau untuk balita, kita hanya ada satu posyandu dan semua sudah tertangani. Untuk lansia kita bagi dua, karena penanganannya memang berbeda dan lebih memakan waktu,” ujar Ketut, Jumat (30/5/2025).
Ia menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah desa untuk menghadirkan akses layanan kesehatan merata bagi seluruh warga.
Meski demikian, Ketut mengakui masih ada tantangan, terutama kurangnya kerja sama dari sebagian orang tua dalam membawa anak mereka ke Posyandu.
“Memang ada beberapa orang tua yang sulit diajak bekerja sama. Kalau mentalnya diperbaiki, anaknya bisa tertolong. Tapi ada juga yang gangguannya sudah menurun dari nenek, ke anak, sampai cucu,” ungkapnya.
Untuk menjawab tantangan itu, pemerintah desa bersama petugas Puskesmas melakukan pendekatan langsung ke rumah-rumah warga.
Sinergi dengan aparat desa dan Linmas terbukti cukup efektif dalam membangun kepercayaan masyarakat. Kehadiran tokoh desa juga memberi pengaruh positif dalam membuka komunikasi.
“Biasanya kalau ada aparat desa, warga lebih sungkan. Alhamdulillah, ada kemajuan dengan beberapa kasus yang kini menjalani pengobatan,” jelas Ketut.
Selain itu, pemerintah desa juga menyediakan layanan antar jemput bagi warga yang membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan lebih lengkap. Dalam proses pemeriksaan awal, pasien didampingi bidan desa agar dapat memperoleh pelayanan medis yang optimal.
“Kami terus memantau dan mendampingi bersama Puskesmas, tapi laporan lanjutan terkadang sulit didapat karena pola pikir orang tua yang belum terbuka,” tambahnya.
Pendekatan yang diterapkan pemerintah desa lebih menekankan pada aspek edukasi dan persuasif.
Menurut Ketut, prinsip yang dipegang adalah menghormati hak, kenyamanan, dan privasi warga, sehingga pelayanan kesehatan tetap humanis.
“Fokus utama tetap pada lansia dan balita, sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam mewujudkan masyarakat desa yang sehat dan sejahtera,” pungkasnya.
Melalui keterlibatan banyak pihak, Pemerintah Desa Loa Pari menunjukkan kepedulian nyata dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
Di tengah keterbatasan sumber daya, semangat gotong royong yang dibangun menjadi cerminan kepemimpinan desa yang berpihak pada kemanusiaan dan masa depan generasi. (Adv/fk)







