IMG-20251109-WA0199

Pesona Alam Terkekang Infrastruktur yang Tertinggal di Garis Depan Pariwisata Kecamatan

DIALOGIS.CO, SANGATTA – Pengembangan pariwisata di tingkat kecamatan masih menghadapi kendala besar dalam hal kesiapan infrastruktur. Banyak potensi wisata yang sebenarnya memiliki daya tarik alam yang tinggi, namun belum didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai untuk bisa bersaing di tingkat regional. Kondisi ini membuat banyak lokasi wisata potensial tidak dapat dikembangkan secara optimal, bagaikan mutiara yang masih terpendam di dasar laut, indah secara alami tetapi sulit dijangkau dan dinikmati oleh khalayak yang lebih luas. Ketimpangan antara potensi dan realitas pembangunan ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan dari sektor pariwisata.

Yusri Yusuf selaku anggota DPRD Kutai Timur, menjelaskan kondisi yang ada di lapangan. “Tantangan terbesar pariwisata yang berada di kecamatan itu infrastruktur pengembangan daerah wisatanya belum sesuai atau belum layak dijadikan tempat pariwisata yang betul-betul elok dilihat, masih seperti alam kalau tempat wisata kita kalau di daerah-daerah pantai yah, kalau di kecuali di daerah pesisir seperti villa di daerah sangkulirang itu sudah mulai ada pengembangan. Tapi kalau di wilayah pantai itu jarang disentuh,” paparnya. Pernyataan ini menggarisbawahi sebuah paradoks: justru di daerah yang memiliki daya tarik alam paling autentik, infrastrukturnya paling tertinggal. Konsep “masih seperti alam” yang disampaikan oleh Yusuf menunjukkan bahwa destinasi-destinasi ini masih dalam keadaan mentah, tanpa sentuhan penataan yang dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung sekaligus menjaga kelestariannya.

Ketimpangan pengembangan infrastruktur wisata terlihat jelas antara kawasan yang sudah mendapat perhatian dengan wilayah yang masih terabaikan. Kawasan seperti Sangkulirang sudah mulai menunjukkan kemajuan dengan hadirnya pengembangan villa, sementara kawasan pantai lainnya justru masih tertinggal. Padahal, potensi wisata bahari di daerah ini sebenarnya sangat menjanjikan jika mendapatkan sentuhan pembangunan yang serius. Perkembangan yang tidak merata ini berisiko menciptakan kesenjangan ekonomi baru antarwilayah dalam satu kabupaten yang sama. Daerah yang sudah terbangun akan menarik lebih banyak investasi dan pengunjung, sementara daerah yang tertinggal akan semakin terpinggirkan, padahal potensi keindahannya mungkin tidak kalah besar.

Menyikapi kondisi ini, pemerintah daerah berupaya mengalokasikan anggaran melalui APBD dan mengajukan proposal melalui APBN untuk pembangunan infrastruktur pariwisata. Langkah ini diharapkan dapat membuka akses menuju lokasi-lokasi wisata potensial sekaligus menyediakan fasilitas pendukung yang layak bagi pengunjung. Pembangunan infrastruktur tidak hanya terbatas pada jalan menuju lokasi, tetapi juga mencakup penyediaan air bersih, listrik, jaringan telekomunikasi, tempat sampah, MCK yang layak, serta area parkir. Tanpa dukungan fasilitas pendukung yang memadai, sebuah destinasi wisata akan kesulitan bersaing dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan.

Pengembangan infrastruktur pariwisata tidak hanya penting untuk menarik minat wisatawan, tetapi juga untuk memberdayakan ekonomi masyarakat setempat. Dengan akses yang baik dan fasilitas yang memadai, diharapkan dapat memunculkan usaha-usaha baru di sekitar kawasan wisata yang akan menyerap tenaga kerja lokal. Masyarakat tidak hanya akan menjadi penonton, tetapi dapat menjadi pelaku utama dalam geliat ekonomi pariwisata, misalnya dengan membuka homestay, kedai makan yang menyajikan kuliner khas, menjadi pemandu wisata lokal, atau menjual cenderamata dan hasil kerajinan tangan. Dengan demikian, manfaat pembangunan infrastruktur dapat dirasakan secara langsung dan meluas oleh masyarakat.

Komitmen pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk infrastruktur pariwisata di tingkat kecamatan menjadi kunci penting untuk membuka potensi wisata daerah. Dengan dukungan yang konsisten, diharapkan suatu saat nanti tidak hanya Sangkulirang yang berkembang, tetapi juga kawasan pantai lainnya yang selama ini belum tersentuh pembangunan. Langkah ini harus berjalan beriringan dengan perencanaan yang matang dan berkelanjutan, yang mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Hanya dengan cara itu, pesona alam Kecamatan Kutai Timur tidak hanya akan menjadi cerita tentang keindahan yang terpendam, tetapi akan bertransformasi menjadi destinasi yang terbuka, nyaman, dan mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh warganya. (Adv/jn)

Add-a-little-bit-of-body-text_20250929_225158_0000
IMG-20251107-WA0002
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUTAI TIMUR (3)

#Trending Artikel

Terpopuler

239_20250930_235813_0000

Latest Post