DIALOGIS.CO, BENGALON — Wajah-wajah bahagia tampak di halaman Desa Sepaso. Setelah lama menunggu, warga akhirnya memiliki rumah sakit permanen pertama di Bengalon: RS Santa Elisabeth.
Peresmian oleh Bupati Ardiansyah Sulaiman berlangsung penuh haru, dihadiri pejabat daerah, tokoh agama, hingga ratusan warga. “Kita ingin masyarakat pedalaman tak lagi merasa terpinggirkan. Rumah sakit ini wujud komitmen pelayanan yang setara,” ujarnya.
RS Santa Elisabeth berdiri hasil kerja sama Yayasan Santa Elisabeth Medan dan Pemkab Kutim. Fasilitas ini melengkapi layanan dasar yang sebelumnya hanya tersedia di puskesmas. Rumah Sakit Santa Elisabeth Bengalon menyediakan fasilitas kamar operasi, rawat inap, unit gawat darurat (UGD), radiologi, farmasi, dan pastoral care.
Suster Floresta Sitepu, seorang biarawati asal Karo, Adalah sosok di balik operasional RS ini. Suster Floresta telah mengabdi lebih dari dua dekade di dunia pelayanan medis. “Kami hadir bukan karena kaya, tapi karena cinta,” ujarnya dengan mata berkaca.
Bupati Ardiansyah menegaskan bahwa pemerintah daerah siap menopang system layanan kesehatan untuk masyarakat Kutim dengan dana APBD hingga Rp100 miliar per tahun, termasuk kerja sama BPJS Kesehatan. Ia juga mendorong masyarakat mengutamakan pencegahan.
Pesan serupa disampaikan Ketua TP PKK Kutim, Hj Siti Robiah, yang mengingatkan pentingnya kebiasaan sehat. “Mulai dari rumah sendiri, jangan merokok di dalam ruangan,” ucapnya.
Sementara itu, Uskup Yustinus Harjosusanto menegaskan RS Santa Elisabeth bukan sekadar institusi, tetapi “keluarga baru” bagi masyarakat Bengalon. “Yang datang ke sini bukan hanya mencari obat, tapi mencari harapan,” katanya.
Ke depan, RS Santa Elisabeth berencana menggandeng puskesmas dan RS pemerintah untuk memperkuat jaringan rujukan dan edukasi kesehatan. Sebuah langkah yang membawa pesan sederhana: kasih bisa menyembuhkan. (adv/prokopimkutim/jn)







