DIALOGIS.CO, KUTAI KARTANEGARA – Aliansi Mahasiswa Unikarta memastikan tetap menggelar aksi unjuk rasa pada Selasa (18/11/2025), meski pencairan Beasiswa Kukar Idaman telah mulai dilakukan sejak Senin (17/11/2025). Aksi tersebut menjadi bentuk penegasan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara membenahi mekanisme penyaluran beasiswa yang dinilai masih bermasalah.
Koordinator Lapangan aksi, Nunuk Purwanto, menyebut pencairan sebagian dana tidak serta-merta menghentikan rencana aksi. Menurutnya, persoalan utama terletak pada proses, transparansi, dan konsistensi program.
“Beasiswa Kukar Idaman ini terlalu banyak janji sejak Oktober sampai Minggu, 16 November 2025. Ketika kami memposting rencana aksi di media sosial, baru ada respons terkait pencairan. Berarti ada yang salah dalam mekanismenya,” ujarnya.
Nunuk juga mempertanyakan mengapa respons baru muncul setelah tekanan publik meningkat. “Apakah harus di-up dulu di media sosial? Apakah harus didemo dulu baru ada tindakan dari Pemkab?” tambahnya.
Ia menjelaskan, meski sebagian penerima sudah mendapatkan dana, mahasiswa masih menemukan sejumlah kendala, mulai dari persoalan penganggaran, proses verifikasi, hingga pencairan yang tidak seragam. Kondisi tersebut dinilai merugikan mahasiswa dan berpotensi terulang jika tidak diperbaiki.
“Pendidikan adalah hak dasar. Jadi Pemkab tidak boleh main-main. Kami tetap turun aksi agar mekanisme Beasiswa Kukar Idaman dibenahi secara menyeluruh,” tegasnya.
Dalam aksinya, Aliansi Mahasiswa Unikarta membawa tiga tuntutan utama. Pertama, meminta kepastian waktu pencairan bagi seluruh penerima yang belum menerima dana. Kedua, mendesak transparansi penuh terkait mekanisme pencairan, mulai prosedur awal, verifikasi, hingga penyaluran akhir.
Tuntutan ketiga adalah menjaga konsistensi program Beasiswa Kukar Idaman, termasuk memastikan kuota penerima tidak dikurangi atau ditunda tanpa alasan yang jelas.
Aksi dijadwalkan berlangsung di depan Kantor Bupati Kukar dan akan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Kukar. Para peserta berharap gerakan ini mampu menjadi momentum perbaikan menyeluruh agar program beasiswa berjalan lebih teratur, transparan, dan berpihak kepada penerimanya. (Fk)







