DIALOGIS.CO, KUTAI KARTANEGARA – Suasana dini hari di Tenggarong sempat diwarnai kepanikan setelah empat anak binaan dilaporkan melarikan diri dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Tenggarong, Kamis (11/12/2025). Namun upaya pelarian itu tak berlangsung lama. Keempatnya akhirnya berhasil ditemukan dan diamankan kembali oleh petugas.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 Wita. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kalimantan Timur, Endang Lintang Hardiman, menjelaskan bahwa keempat anak tersebut berusia antara 16 hingga 17 tahun dan tengah menjalani proses hukum atas perkara pencurian.
Endang mengungkapkan, berdasarkan keterangan yang diterima petugas, aksi kabur itu bermula ketika para anak binaan berusaha membuka tralis di dalam area LPKA. Upaya tersebut berhasil dilakukan pada waktu dini hari saat situasi masih sepi.
“Kronologinya itu kalau menurut keterangan mereka sendiri, sekitar jam empat pagi mereka tarik tralis itu sampai lepas,” ujar Endang saat memberikan penjelasan.
Setelah berhasil keluar, keempat anak tersebut melarikan diri melalui sisi samping bangunan. Dalam kondisi panik dan terburu-buru, mereka berjalan tanpa arah yang jelas hingga bertemu sebuah truk yang melintas.
“Mereka berempat lari lewat samping, turun, langsung jalan. Ketemu truk, ikut truk ke pasar,” jelasnya.
Namun sesampainya di kawasan pasar, kebingungan mulai muncul. Karena tidak mengenal medan dan tidak hafal jalan, mereka justru berbalik arah menuju lokasi awal. Kondisi itu membuat mereka kembali berpapasan dengan petugas di sejumlah titik.
“Lampu merah dua kita dapat. Dua-nya masih jalan lagi. Nah satunya menyerahkan diri, lari lagi ke petugas untuk minta kembali ke sini. Yang satunya mungkin bingung, kami juga cari dia, akhirnya dapat di wilayah ini,” tutur Endang.
Ia membenarkan, dalam proses pencarian sempat terjadi aksi kejar-kejaran antara petugas dan anak binaan tersebut. Meski demikian, situasi tetap terkendali hingga seluruhnya berhasil diamankan.
“Ya kejar-kejaran itu pada saat pencarian saja. Tapi mereka tetap berkelompok, tetap berempat, karena memang tidak tahu jalan,” ungkapnya.
Endang menekankan, peristiwa tersebut perlu dipahami sebagai respons spontan anak-anak yang berada dalam kondisi panik dan kebingungan. Menurutnya, pendekatan kemanusiaan tetap menjadi prioritas dalam penanganan kasus anak berhadapan dengan hukum.
“Ya itulah anak-anak. Jadi teman-teman juga harus memaklumi. Kadang-kadang anak-anak kita juga kita tidak tahu nasibnya seperti apa. Makanya saya langsung turun ke sini ketika mendapat cerita itu,” pungkasnya. (Fk)







